Kamis, 04 Juni 2015

Imbangkan Kuantitas dan Kulitas

Imbangkan Kuantitas dan Kulitas

  
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk ke empat terbesar didunia, setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Sedangkan negara kelima yang memiliki penduduk terbesar adalah Jepang. Masalah kependudukan di Indonesia telah terjadi secara berlarut-larut sekian tahun, dengan sedemikian upaya menanganinya namun tidak juga terselesaikan. Jumlah Penduduk Indonesia yang tinggi bisa menjadi keuntungan karena tersedianya banyak tenaga kerja tetapi bisa menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang tinggi.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Fasli Jalal pada 30 April 2014 menyampaikan salah satu isu kependudukan yakni besarnya jumlah penduduk Indonesia, dimana diperkirakan jumlahnya 240 juta jiwa dengan pertumbuhan 1,49% per tahun. Jadi setiap tahunnya lahir empat sampai lima juta bayi atau kurang lebih 10.000 bayi lahir setiap hari. Yang perlu menjadi perhatian adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia seperti ditunjukkan oleh Indeks Pembangunan Manusia Indonesia yang hanya mampu menempati urutan ke-124 dari 182 negara.
Inilah tantangan besar yang harus diselesaikan. Jika tidak segera dikendalikan maka diperkirakan jumlah penduduk indonesia bisa mencapai 321 juta jiwa pada tahun 2025. Jika kualitas sumber daya manusianya tidak ditingkatkan bisa menjadi beban yang menghambat pertumbuhan ekonomi yang juga akan mempengaruhi pembangunan negara kita. Masalah lahan, pangan, energi dan ketersediaan lapangan pekerjaan merupakan masalah yang harus ditanggung bersama, bukan saja pemerintah tapi juga kita masyarakat negara Indonesia. Sebab keadaan yang sedemikian rupa merupakan hasil dari pola hidup masyarakat semua, sehingga kita sebagai masyarakat juga harus ikut serta dalam penyelesaiannya bukan hanya pintar memprotes saja.
            Salah satu pemicu jumlah penduduk yang banyak yaitu adanya mitos bahwa banyak anak banyak rejeki, namun bagaimana kenyataannya? Banyak anak berarti banyak tanggungan sehingga semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan, meski hal ini telah jelas namun beberapa orang tetap memiliki anak banyak meski kurang mampu dari segi ekonomi sehingga yang terjadi malah maraknya anak-anak jalanan yang meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan mereka dan tidak bersekolah. Inikah yang dimaksud banyak anak maka banyak rejeki dari hasil kerja anak yang seharusnya menerima pendidikan guna merangkai masa depan? Mari ubah pola berpikir ini dimulai dari diri kita sendiri. Banyak anak maka banyak rejeki mungkin ada benarnya, jika jumlah anak banyak dilengkapi dengan kualitas yang baik pula. Secara singkat, kuantitas anak dan kualitas anak haruslah seimbang. Dengan demikian pembangunan negara tetap berlangsung efektif dengan generasi yang berkualitas.
Masalah lainnya adalah sebaran penduduk yang tidak merata dimana 58% penduduk berada di pulau jawa meskipun luas pulau jawa hanya 7% dari luas Indonesia. Padatnya penduduk di Jawa menyebabkan lahan pertanian akan semakin sempit dirubah menjadi pemukiman dan industri. Hal ini didukung dengan warga yang berbondong-bondong datang ke pulau ini mencari lapangan kerja. Mungkin mereka akan berhasil merantau bila memiliki keahlian yang bisa digunakan untuk mendapatkan pekerjaan dan bertahan hidup, namun beberapa dari orang tersebut malah tidak memiliki keahlian untuk bertahan hidup disana sehingga menjadi masalah baru seperti menambah tingkat kemiskinan, pengangguran, kejahatan dan lainya.
Dilihat dari masalah tersebut pembangunan secara cepat memang terjadi disana, tapi dibalik itu terdapat dampak negatif yaitu bertambahnya angka kemiskinan yang secara tidak langsung meningkatkan angka kriminalitas juga. Sebenarnya untuk sukses bukan suatu keharusan merantau mencari kota-kota besar, jika ingin sukses cukup dengan memperkaya berbagai keterampilan pada diri sendiri dan ciptakanlah sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan lingkungan.
Akibat banyaknya jumlah penduduk Indonesia, angkatan kerja yang tersediapun banyak namun tidak mampu diserap semuanya oleh kesempatan kerja yang ada karena tidak berimbangnya jumlah angkatan kerja yang ada dengan ketersediaan kesempatan kerja. Sehingga angka pengangguran pun bertambah dan angka kemiskinan meningkat. Hal inilah penyebab pokok terhambatnya penyelenggaraan pembangunan ekonomi di Indonesia.
Semakin banyak pertumbuhan penduduk di Indonesia namun tak sejalan dengan pertumbuhan pembangunan di Indonesia sendiri, sehingga menambah tingkat kemiskinan di Indonesia. Adapun beberapa solusi yang saya sarankan :
1.      Mulai Kembangkan Minat Wirausaha
Banyaknya pengangguran yang ada dapat diserap dengan mendirikan usaha sendiri. Dan peranan jiwa wirausaha sangat dituntut dalam hal ini. Alangkah baiknya bila generasi muda lebih didukung untuk mendirikan usaha sendiri dibandingkan menjadi pegawai. Mari dibuat program untuk membentuk para wirausahawan-wirausahawan muda di negara kita ini, contohnya memberi pinjaman modal tanpa bunga untuk membangun usaha namun harus dikembalikan kembali nantinya.
2.      Menyalurkan Tenaga Kerja
Bekerja sama dengan negara lain dan menyalurkan tenaga kerja ke luar negeri sebenarnya sebuah program yang baik, namun kualitas tenaga kerja yang dikirim masih rendah sehingga terjadi tragedi-tragedi seperti yang kita lihat pada para TKI maupun TKW Indonesia di luar negeri. Sebaiknya penyaluran tenaga kerja tetap diadakan, tapi tenaga kerja yang dikirim harus diseleksi dan diberi bekal ilmu untuk meningkatkan kualitas kerja mereka. Juga diberikan perlindungan oleh negara terhadap para tenaga kerja yang disalurkan ini.
3.      Menjalankan Program Keluarga Berencana
Solusi-solusi sebelumnya merupakan cara untuk menanggulangi jumlah pengangguran yang banyak akibat tingginya tingkat kepadatan penduduk Indonesia, sedangkan untuk mencegah kelanjutan dari jumlah penduduk yang padat ini dapat dilakukan dengan menerapkan program Keluarga Berencana seperti pendewasaan usia perkawinan agar tidak ada lagi pernikahan dini yang merupakan salah satu penyumbang jumlah bayi lahir cukup banyak. Kemudian dalam sebuah keluarga cukup mempunyai 2 anak saja, baik itu laki-laki maupun perempuan sama saja yang penting adalah anak-anak itu memiliki kualitas hidup dan pendidikan yang baik sehingga masa depan mereka terjamin.
4.      Revisi Undang-Undang
Untuk mencegah peningkatan jumlah penduduk kembali Program dari BKKBN yaitu Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) memang telah ada, namu hal ini sulit diterapkan karena Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 7 ayat 1 berisi dimana perkawinan diizinkan bila pihak laki-laki mencapai umur 19 tahun dan wanita usia 16 tahun. Sedangkan pada program PUP usia minimum wanita menikah yaitu 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Terlihat kedua hal ini bertentangan sehingga sulit diterapkan.



Rabu, 03 Juni 2015

Kekuatan "KITA"

Kekuatan “KITA”


“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”
            Pepatah ini pastilah tidak asing lagi bagi kita , sebab sejak memasuki sekolah dasar hal ini telah ditanamkan oleh pada pendidik ke murid-murid mereka. Pepatah tersebut memberikan pelajaran sederhana, yaitu dengan kebersamaan maka kita pasti bisa. Bahkan negara tercinta kita, “Indonesia” yang dulunya dijajah oleh negara” lain yang jauh lebih kuat akhirnya bisa merdeka berkat para pejuang kita yang bersatu melawan penjajah. Bukankah hal ini sudah cukup membuktikan betapa hebatnya kebersamaan.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak, dan hal ini menyebabkan banyak masalah pula di negara kita ini akibat kuantitas dan kualitas penduduk yang tidak sebanding. Seperti jumlah pengangguran meningkat, angka kemiskinan bertambah, tingginya tingkat kriminalitas dan lain-lainnya. Bagaimana bisa?? Bahkan China yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih banyak dari Indonesia justru menjadi salah satu negara termaju didunia, meski dengan kepadatan penduduk yang tinggi namun negara itu justru sangat teratur.
Mulanya saya berpikir, hal itu disebabkan sistem pemerintahan kita . Tapi nyatanya sistem Presidensial yang negara kita gunakan juga digunakan dinegara tersebut, berarti bukan ini penyebab masalahnya. Kembali dengan pepatah diawal,  mungkinkah karena masyarakat negara ini bercerai ? ?
Tidak dapat memastikan tapi mungkin. Sebab berdasarkan tayangan televisi dapat dilihat masalah-masalah yang terjadi Indonesia, contohnya perang antar kampung yang bersebelahan. Bersebelah berarti berdampingan, kampung yang kehidupannya berlangsung berdampingan selama sekian tahun harusnya sudah seperti keluarga sendiri. Tapi mengapa hanya karena satu masalah terjadi perpecahan yang sedemikian rupa, tidak bisakah masalah diselesaikan dengan jalan damai bersama keluarga ? Ini baru contoh kecil pembuktian bagaimana bercerai menyebabkan keruntuhan di Indonesia.
 Dengan jumlah penduduk Indonesia yang banyak, menyebabkan berbagai masalah dan lambannya pembangunan negeri. Sebab jumlah penduduk yang harus diatur amatlah banyak terlebih kualitas hidup mereka tidak merata, dalam artian adanya kesenjangan besar antara yang mampu dengan tidak mampu. Hal ini diperparah akibat kurangnya persatuan diantara kita sehingga merugikan ke Negara tercinta kita “Indonesia”. Ada sebuah keuntungan dibalik jumlah penduduk yang banyak di Indonesia yaitu Bonus Demografi, yang diprediksi akan terjadi di tahun 2020-2030. Bonus Demografi yaitu dimana penduduk dengan umur produktif sangat besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak,  sehingga para generasi bangsa usia produktif ini diharapkan dapat membuat sesuatu yang berharga untuk membangun bangsa kita yang tengah terpuruk ini layaknya bonus di hari Raya yang kita dapat.
Berdasarkan paparan Surya Chandra, anggota DPR Komisi IX, dalam Seminar masalah kependudukan di Indonesia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bahwa jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) pada 2020-2030 akan mencapai 70 persen, sedangkan sisanya, 30 persen, adalah penduduk yang tidak produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 65 tahun ). Dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta, sementara nonproduktif hanya 60 juta. Tentu akan terjadi dampak sosial – ekonomi dari bonus demografi ini, salah satunya yaitu menyebabkan angka ketergantungan penduduk dimana tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk produktif. Hal ini sejalan dengan laporan PBB, yang menyatakan bahwa dibandingkan dengan negara Asia lainnya, angka ketergantungan penduduk Indonesia akan terus turun sampai 2020. Hal ini merupakan suatu berkah, sebab melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Impasnya adalah meningkatkannya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Namun akankah bonus Demografi ini menjadi berkah atau musibah yang merugikan negara? Hal itu tergantung pada kita, para generasi muda. Akibat kuantitas dengan kualitas penduduk yang tidak seimbang saat ini banyak terdapat anak muda dengan pendidikan kurang serta kualitas hidup rendah, terlebih lagi dilihat dikehidupan sehari-hari beberapa generasi muda sekarang lebih banyak bermain ketimbang belajar atau bekerja. Jika sebagian banyak generasi muda seperti ini tidak dewasa dan tidak memikirkan masa depannya, meski negara kita mengalami bonus demografi tetap saja tidak akan terjadi perubahan ke arah maju selangkah pun.
Sebagai generasi muda dalam kategori produktif, setelah mengetahui terkait bonus ini harusnya semakin bekerja keras untuk membangun negeri elok kita. Bonus Demografi haruslah menjadi reformasi perubahan negara berkembang kita menjadi negara maju.  Namun pembangunan negara kita ini tidak dapat dilakukan secara tunggal, kita semua harus bekerja sama dibidang kita masing dengan memberikan hasil yang terbaik untuk negara kita. Jika bukan kita para generasi penerus lalu siapa lagi?
Mari kita semua bersama-sama mewujudkan bonus demografi ini dan menunjukkan pada negeri tetangga bahwa kita juga mampu bangkit, mulai dari saat ini bersama-sama kita membangun bangsa Indonesia berlandaskan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sehingga diharapkan seluruh masyarakat Indonesia tidak bertentangan dengan sesama saudara kembali, terlebih lagi akibat perbedaan budaya dan agama yang merupakan nilai luhur dari nenek moyang kita.
Generasi muda yang budiman, sudah saatnya kita bangsa kita melakukan perubahan besar-besaran dan menuju negara yang maju. Adapun solusi yang saya berikan :
1.      Mengembangkan Minat Wirausaha
Dengan wirausaha diharapkan para generasi muda akan lebih mandiri dalam bekerja sehingga tidak bersusah payah mencari pekerjaan. Selain itu, generasi muda juga lebih dapat mengembangkan ide kreatifnya dalam membangun sebuah usaha dan meningkatkan perekonomian negara juga mengurangi angka pengangguran.
2.      Budayakan Anti Korupsi
Seperti yang banyak ditayangkan berita, di negara kita sedang dilakukan pemberantasan korupsi besar-besaran. Kita sebagai generasi penerus haruslah ikut membantu memberantas korupsi ini dengan membudayakan sikap anti korupsi sedini mungkin, sebab korupsi hanya terlihat indah sesaat namun busuk hingga akhir hayat. Dengan budaya anti korupsi, kita dapat memperbaiki moral diri kita dan lebih terbiasa jujur sehingga diharapakan tidak ada beban dihati. Hal ini dapat dimulai dari hal kecil seperti tidak melanggar lampu lalu lintas, karena secara tidak sadar perilaku melanggar lampu lalu lintas merupakan sala satu sikap korupsi waktu yang sering dilakukan. Jika orang tua anda bahkan anda juga pernah melakukannya, mari sekarang kita ubah bersama pola prilaku ini.
3.      Ubah Pola Berpikir
Inilah poin utama yang harus diusahakan berhasil, sebab mengubah pola berpikir sangatlah sulit namun bila berhasil kita dapat mengarahkan mereka ke sesuatu yang lebih baik. Untuk mewujudkan hal ini tetap diperlukan kerjasama dari pihak orang tua, keluarga dan lingkungan. Sebagian besar anak-anak dilatih kedisiplinannya dengan rasa takut, pola berpikir itulah yang harus diubah.
4.      Kuatkan Pendidikan Karakter Bangsa Indonesia
Generasi muda merupakan cerminan suatu bangsa, karena itulah pendidikan karakter amatlah penting. Bangsa Indonesia sesungguhnya telah memiliki karakternya, yaitu saling menghormati dan lain-lainnya. Hal inilah yang mulai hilang dari masyarakat. Mulailah perkuat karakter ini dari dirimu sendiri lalu kembangkan ke lingkungan sekitarmu.

Senin, 01 Juni 2015

Neisseria meningitis

NEISSERIA MENINGITIS

 

 

Neisseria meningitis adalah bakteri gram negatif penyebab penyakit meningitis dan meningococcemia,bakteri ini pertama kali diisolasi pada tahun 1887. Secara umum ciri-ciri neisseria meningiditis berbentuk diplokokus non motil berdiameter mendekati 0.8 nanometer. Masing-masing cocci berbentuk ginjal, krtika organisme berpasangan sisi yang cekung akan berdekatan. Bakteri ini bersifat patogen pada manusia dan biasanya ditemukan bergabung atau di dalam sel polimorfonuklear. Pada gonococci memiliki 70% DNA homolog, tidak memiliki kapsul polisakarida, memiliki plasmid. Gonococci paling baik tumbuh pada media yang mengandung substansi organik yang kompleks seperti darah di panaskan hemin, protein hewan dan dalam ruang udara yang mengandung 5% CO2. Gonococci hanya memfermentasi glukosa dan berada dari neisseria lain. Gonococcus biasabya menghasilkan koloni yang lebih kecil di bandingkan nesseiria lain.

Struktur koloni bakteri ini terdiri dari minimal 8 golongan sero menigokokus (A, B, C, D W-135, X, Y DAN Z). Pada polisakarida golongan A adalah suatu polimer dari suatu N-asetilmanosamin fosfat. Sedangkan pada golongan B dapat dibedakan lagi dengan teknik bakterisid menjadi paling sedikit 10 serotip yang berbeda. Teknik serotip bakterisid telah dipakai secara epidemiologic untuk memeriksa epidemicyang disebabkan oleh kuman meningokokus grup C.  

Diagnosis laboratorium infeksi meningokokus terutama didiagnosis dengan cara dentifikasi  Neisseria meningitidis dalam bahan yang didapat dari penderita. Jika bahan berupa eksudat, misalnya likuor serebrospinalis, maka dapat dibuat diagnosis presumptive yang cepat dengan cara menemukan diplokokus negative gram dalam sediaan apus. Kuman kadang-kadang juga dapat ditemukan dalam sediaan apus yang berasal dari petekhhiae. Dalam kasus kuman juga dapat ditemukan dalam sediaa apus darah tepi. Bahan pemeriksaan dapat berupa  darah, likuor seebrospinalis, bahan dari petekhiae, cairan sendi, usap tenggorok atau nasofaring. Medium selektif Thayer-martin dipergunakan untuk pemeriksaan bahan yang mengandung bermacam-macam bakteri, sedangkan bahan-bahan yang berasal dari darah, likuor, atau bahan-bahan yang secara normal steril, ditanam dalam kaldu trypticase soe atau pelat agar coklat dalam cukup CO2. Counter current immunooelecthroporesis adalah suatu tekhnik atau cara yang dipakai untuk identifikasi polisakarida meningokokus dlam darah, likuor dan cairan sendi secara cepat. Adanya antibody serum dalam penderita dapat diketahui dengan hemaglutinasi hambatan pasif atau dengan radioactive antigen biding test merupakan cara yang paling sensitive saat ini.

 


 

 

Sabtu, 28 April 2012


Korean Style marajalela ni,,,
Wow,,, hampir seluruh dunia menyukai gaya yang superimut nan lucu 1 ini ;0
*termasuk eke ;),, hehehehe *
banyak faktor pendukung yang menyebabkan korea sangat booming sekarang ini,,
Ah, Super Show 4 Suju d Indonesia , rame gila XD
Pengen nontn euy, tp eke miskin XP
NP lah,,, nih bbrp koleksi picture ulzang eke



cukup dlu lah bwt hari ni ^^
bye,,, see u soon ;)



UllZaanggg~

 
 
 Tren korean style lg booming ne ^^
hampir seluruh dunia udah kena virus imut 1 ne deh kayak'a ;0
termasuk eke, haaa
Ullzang, bwt para koreanholic psti gg asing ma sebutan yg 1 ne :)
cz gila, ajib wae euy ...
ne bbrp koleksi picture ulzzang eke, join it ^_^


 
 
 
 
 

  nah segitu doang, cukuplah..
ajib kan?
tp sayang, ulzang boy eke koleksi'a dikit :p
yah, cuci mata pke yg gelis" aje dah , heee
bye...




*sumber : google.com & facebook.com*