Kekuatan
“KITA”
“Bersatu
kita teguh, bercerai kita runtuh”
Pepatah
ini pastilah tidak asing lagi bagi kita , sebab sejak memasuki sekolah dasar
hal ini telah ditanamkan oleh pada pendidik ke murid-murid mereka. Pepatah
tersebut memberikan pelajaran sederhana, yaitu dengan kebersamaan maka kita
pasti bisa. Bahkan negara tercinta kita, “Indonesia” yang dulunya dijajah oleh
negara” lain yang jauh lebih kuat akhirnya bisa merdeka berkat para pejuang
kita yang bersatu melawan penjajah. Bukankah hal ini sudah cukup membuktikan
betapa hebatnya kebersamaan.
Indonesia merupakan salah satu
negara dengan jumlah penduduk terbanyak, dan hal ini menyebabkan banyak masalah
pula di negara kita ini akibat kuantitas dan kualitas penduduk yang tidak
sebanding. Seperti jumlah pengangguran meningkat, angka kemiskinan bertambah,
tingginya tingkat kriminalitas dan lain-lainnya. Bagaimana bisa?? Bahkan China
yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih banyak dari Indonesia justru menjadi
salah satu negara termaju didunia, meski dengan kepadatan penduduk yang tinggi
namun negara itu justru sangat teratur.
Mulanya saya berpikir, hal itu
disebabkan sistem pemerintahan kita . Tapi nyatanya sistem Presidensial yang
negara kita gunakan juga digunakan dinegara tersebut, berarti bukan ini
penyebab masalahnya. Kembali dengan pepatah diawal, mungkinkah karena masyarakat negara ini bercerai
? ?
Tidak dapat memastikan tapi mungkin.
Sebab berdasarkan tayangan televisi dapat dilihat masalah-masalah yang terjadi
Indonesia, contohnya perang antar kampung yang bersebelahan. Bersebelah berarti
berdampingan, kampung yang kehidupannya berlangsung berdampingan selama sekian
tahun harusnya sudah seperti keluarga sendiri. Tapi mengapa hanya karena satu
masalah terjadi perpecahan yang sedemikian rupa, tidak bisakah masalah
diselesaikan dengan jalan damai bersama keluarga ? Ini baru contoh kecil pembuktian
bagaimana bercerai menyebabkan keruntuhan di Indonesia.
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang banyak,
menyebabkan berbagai masalah dan lambannya pembangunan negeri. Sebab jumlah
penduduk yang harus diatur amatlah banyak terlebih kualitas hidup mereka tidak
merata, dalam artian adanya kesenjangan besar antara yang mampu dengan tidak
mampu. Hal ini diperparah akibat kurangnya persatuan diantara kita sehingga
merugikan ke Negara tercinta kita “Indonesia”. Ada sebuah keuntungan dibalik
jumlah penduduk yang banyak di Indonesia yaitu Bonus Demografi, yang diprediksi
akan terjadi di tahun 2020-2030. Bonus Demografi
yaitu dimana penduduk dengan umur produktif sangat besar sementara usia muda
semakin kecil dan usia lanjut belum banyak,
sehingga para generasi bangsa usia produktif ini diharapkan dapat
membuat sesuatu yang berharga untuk membangun bangsa kita yang tengah terpuruk
ini layaknya bonus di hari Raya yang kita dapat.
Berdasarkan paparan Surya Chandra,
anggota DPR Komisi IX, dalam Seminar masalah kependudukan di Indonesia di
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bahwa jumlah usia angkatan kerja
(15-64 tahun) pada 2020-2030 akan mencapai 70 persen, sedangkan sisanya, 30
persen, adalah penduduk yang tidak produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 65 tahun
). Dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta,
sementara nonproduktif hanya 60 juta. Tentu akan terjadi dampak sosial –
ekonomi dari bonus demografi ini, salah satunya yaitu menyebabkan angka
ketergantungan penduduk dimana tingkat penduduk produktif yang menanggung
penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah diperkirakan
mencapai 44 per 100 penduduk produktif. Hal ini sejalan dengan laporan PBB,
yang menyatakan bahwa dibandingkan dengan negara Asia lainnya, angka
ketergantungan penduduk Indonesia akan terus turun sampai 2020. Hal ini
merupakan suatu berkah, sebab melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan
menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi
ke tingkat yang lebih tinggi. Impasnya adalah meningkatkannya kesejahteraan
masyarakat secara keseluruhan.
Namun akankah bonus Demografi ini
menjadi berkah atau musibah yang merugikan negara? Hal itu tergantung pada
kita, para generasi muda. Akibat kuantitas dengan kualitas penduduk yang tidak
seimbang saat ini banyak terdapat anak muda dengan pendidikan kurang serta
kualitas hidup rendah, terlebih lagi dilihat dikehidupan sehari-hari beberapa
generasi muda sekarang lebih banyak bermain ketimbang belajar atau bekerja.
Jika sebagian banyak generasi muda seperti ini tidak dewasa dan tidak
memikirkan masa depannya, meski negara kita mengalami bonus demografi tetap
saja tidak akan terjadi perubahan ke arah maju selangkah pun.
Sebagai generasi muda dalam kategori
produktif, setelah mengetahui terkait bonus ini harusnya semakin bekerja keras
untuk membangun negeri elok kita. Bonus Demografi haruslah menjadi reformasi
perubahan negara berkembang kita menjadi negara maju. Namun pembangunan negara kita ini tidak dapat
dilakukan secara tunggal, kita semua harus bekerja sama dibidang kita masing
dengan memberikan hasil yang terbaik untuk negara kita. Jika bukan kita para
generasi penerus lalu siapa lagi?
Mari kita semua bersama-sama
mewujudkan bonus demografi ini dan menunjukkan pada negeri tetangga bahwa kita
juga mampu bangkit, mulai dari saat ini bersama-sama kita membangun bangsa
Indonesia berlandaskan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sehingga diharapkan
seluruh masyarakat Indonesia tidak bertentangan dengan sesama saudara kembali,
terlebih lagi akibat perbedaan budaya dan agama yang merupakan nilai luhur dari
nenek moyang kita.
Generasi muda yang budiman, sudah
saatnya kita bangsa kita melakukan perubahan besar-besaran dan menuju negara
yang maju. Adapun solusi yang saya berikan :
1. Mengembangkan
Minat Wirausaha
Dengan wirausaha diharapkan para
generasi muda akan lebih mandiri dalam bekerja sehingga tidak bersusah payah
mencari pekerjaan. Selain itu, generasi muda juga lebih dapat mengembangkan ide
kreatifnya dalam membangun sebuah usaha dan meningkatkan perekonomian negara
juga mengurangi angka pengangguran.
2. Budayakan
Anti Korupsi
Seperti yang banyak ditayangkan
berita, di negara kita sedang dilakukan pemberantasan korupsi besar-besaran.
Kita sebagai generasi penerus haruslah ikut membantu memberantas korupsi ini
dengan membudayakan sikap anti korupsi sedini mungkin, sebab korupsi hanya
terlihat indah sesaat namun busuk hingga akhir hayat. Dengan budaya anti
korupsi, kita dapat memperbaiki moral diri kita dan lebih terbiasa jujur
sehingga diharapakan tidak ada beban dihati. Hal ini dapat dimulai dari hal
kecil seperti tidak melanggar lampu lalu lintas, karena secara tidak sadar
perilaku melanggar lampu lalu lintas merupakan sala satu sikap korupsi waktu
yang sering dilakukan. Jika orang tua anda bahkan anda juga pernah
melakukannya, mari sekarang kita ubah bersama pola prilaku ini.
3. Ubah Pola
Berpikir
Inilah poin utama yang harus
diusahakan berhasil, sebab mengubah pola berpikir sangatlah sulit namun bila
berhasil kita dapat mengarahkan mereka ke sesuatu yang lebih baik. Untuk
mewujudkan hal ini tetap diperlukan kerjasama dari pihak orang tua, keluarga
dan lingkungan. Sebagian besar anak-anak dilatih kedisiplinannya dengan rasa
takut, pola berpikir itulah yang harus diubah.
4. Kuatkan
Pendidikan Karakter Bangsa Indonesia
Generasi muda merupakan cerminan
suatu bangsa, karena itulah pendidikan karakter amatlah penting. Bangsa
Indonesia sesungguhnya telah memiliki karakternya, yaitu saling menghormati dan
lain-lainnya. Hal inilah yang mulai hilang dari masyarakat. Mulailah perkuat
karakter ini dari dirimu sendiri lalu kembangkan ke lingkungan sekitarmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar