Rabu, 03 Juni 2015

Kekuatan "KITA"

Kekuatan “KITA”


“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”
            Pepatah ini pastilah tidak asing lagi bagi kita , sebab sejak memasuki sekolah dasar hal ini telah ditanamkan oleh pada pendidik ke murid-murid mereka. Pepatah tersebut memberikan pelajaran sederhana, yaitu dengan kebersamaan maka kita pasti bisa. Bahkan negara tercinta kita, “Indonesia” yang dulunya dijajah oleh negara” lain yang jauh lebih kuat akhirnya bisa merdeka berkat para pejuang kita yang bersatu melawan penjajah. Bukankah hal ini sudah cukup membuktikan betapa hebatnya kebersamaan.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak, dan hal ini menyebabkan banyak masalah pula di negara kita ini akibat kuantitas dan kualitas penduduk yang tidak sebanding. Seperti jumlah pengangguran meningkat, angka kemiskinan bertambah, tingginya tingkat kriminalitas dan lain-lainnya. Bagaimana bisa?? Bahkan China yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih banyak dari Indonesia justru menjadi salah satu negara termaju didunia, meski dengan kepadatan penduduk yang tinggi namun negara itu justru sangat teratur.
Mulanya saya berpikir, hal itu disebabkan sistem pemerintahan kita . Tapi nyatanya sistem Presidensial yang negara kita gunakan juga digunakan dinegara tersebut, berarti bukan ini penyebab masalahnya. Kembali dengan pepatah diawal,  mungkinkah karena masyarakat negara ini bercerai ? ?
Tidak dapat memastikan tapi mungkin. Sebab berdasarkan tayangan televisi dapat dilihat masalah-masalah yang terjadi Indonesia, contohnya perang antar kampung yang bersebelahan. Bersebelah berarti berdampingan, kampung yang kehidupannya berlangsung berdampingan selama sekian tahun harusnya sudah seperti keluarga sendiri. Tapi mengapa hanya karena satu masalah terjadi perpecahan yang sedemikian rupa, tidak bisakah masalah diselesaikan dengan jalan damai bersama keluarga ? Ini baru contoh kecil pembuktian bagaimana bercerai menyebabkan keruntuhan di Indonesia.
 Dengan jumlah penduduk Indonesia yang banyak, menyebabkan berbagai masalah dan lambannya pembangunan negeri. Sebab jumlah penduduk yang harus diatur amatlah banyak terlebih kualitas hidup mereka tidak merata, dalam artian adanya kesenjangan besar antara yang mampu dengan tidak mampu. Hal ini diperparah akibat kurangnya persatuan diantara kita sehingga merugikan ke Negara tercinta kita “Indonesia”. Ada sebuah keuntungan dibalik jumlah penduduk yang banyak di Indonesia yaitu Bonus Demografi, yang diprediksi akan terjadi di tahun 2020-2030. Bonus Demografi yaitu dimana penduduk dengan umur produktif sangat besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak,  sehingga para generasi bangsa usia produktif ini diharapkan dapat membuat sesuatu yang berharga untuk membangun bangsa kita yang tengah terpuruk ini layaknya bonus di hari Raya yang kita dapat.
Berdasarkan paparan Surya Chandra, anggota DPR Komisi IX, dalam Seminar masalah kependudukan di Indonesia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bahwa jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) pada 2020-2030 akan mencapai 70 persen, sedangkan sisanya, 30 persen, adalah penduduk yang tidak produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 65 tahun ). Dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta, sementara nonproduktif hanya 60 juta. Tentu akan terjadi dampak sosial – ekonomi dari bonus demografi ini, salah satunya yaitu menyebabkan angka ketergantungan penduduk dimana tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk produktif. Hal ini sejalan dengan laporan PBB, yang menyatakan bahwa dibandingkan dengan negara Asia lainnya, angka ketergantungan penduduk Indonesia akan terus turun sampai 2020. Hal ini merupakan suatu berkah, sebab melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Impasnya adalah meningkatkannya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Namun akankah bonus Demografi ini menjadi berkah atau musibah yang merugikan negara? Hal itu tergantung pada kita, para generasi muda. Akibat kuantitas dengan kualitas penduduk yang tidak seimbang saat ini banyak terdapat anak muda dengan pendidikan kurang serta kualitas hidup rendah, terlebih lagi dilihat dikehidupan sehari-hari beberapa generasi muda sekarang lebih banyak bermain ketimbang belajar atau bekerja. Jika sebagian banyak generasi muda seperti ini tidak dewasa dan tidak memikirkan masa depannya, meski negara kita mengalami bonus demografi tetap saja tidak akan terjadi perubahan ke arah maju selangkah pun.
Sebagai generasi muda dalam kategori produktif, setelah mengetahui terkait bonus ini harusnya semakin bekerja keras untuk membangun negeri elok kita. Bonus Demografi haruslah menjadi reformasi perubahan negara berkembang kita menjadi negara maju.  Namun pembangunan negara kita ini tidak dapat dilakukan secara tunggal, kita semua harus bekerja sama dibidang kita masing dengan memberikan hasil yang terbaik untuk negara kita. Jika bukan kita para generasi penerus lalu siapa lagi?
Mari kita semua bersama-sama mewujudkan bonus demografi ini dan menunjukkan pada negeri tetangga bahwa kita juga mampu bangkit, mulai dari saat ini bersama-sama kita membangun bangsa Indonesia berlandaskan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sehingga diharapkan seluruh masyarakat Indonesia tidak bertentangan dengan sesama saudara kembali, terlebih lagi akibat perbedaan budaya dan agama yang merupakan nilai luhur dari nenek moyang kita.
Generasi muda yang budiman, sudah saatnya kita bangsa kita melakukan perubahan besar-besaran dan menuju negara yang maju. Adapun solusi yang saya berikan :
1.      Mengembangkan Minat Wirausaha
Dengan wirausaha diharapkan para generasi muda akan lebih mandiri dalam bekerja sehingga tidak bersusah payah mencari pekerjaan. Selain itu, generasi muda juga lebih dapat mengembangkan ide kreatifnya dalam membangun sebuah usaha dan meningkatkan perekonomian negara juga mengurangi angka pengangguran.
2.      Budayakan Anti Korupsi
Seperti yang banyak ditayangkan berita, di negara kita sedang dilakukan pemberantasan korupsi besar-besaran. Kita sebagai generasi penerus haruslah ikut membantu memberantas korupsi ini dengan membudayakan sikap anti korupsi sedini mungkin, sebab korupsi hanya terlihat indah sesaat namun busuk hingga akhir hayat. Dengan budaya anti korupsi, kita dapat memperbaiki moral diri kita dan lebih terbiasa jujur sehingga diharapakan tidak ada beban dihati. Hal ini dapat dimulai dari hal kecil seperti tidak melanggar lampu lalu lintas, karena secara tidak sadar perilaku melanggar lampu lalu lintas merupakan sala satu sikap korupsi waktu yang sering dilakukan. Jika orang tua anda bahkan anda juga pernah melakukannya, mari sekarang kita ubah bersama pola prilaku ini.
3.      Ubah Pola Berpikir
Inilah poin utama yang harus diusahakan berhasil, sebab mengubah pola berpikir sangatlah sulit namun bila berhasil kita dapat mengarahkan mereka ke sesuatu yang lebih baik. Untuk mewujudkan hal ini tetap diperlukan kerjasama dari pihak orang tua, keluarga dan lingkungan. Sebagian besar anak-anak dilatih kedisiplinannya dengan rasa takut, pola berpikir itulah yang harus diubah.
4.      Kuatkan Pendidikan Karakter Bangsa Indonesia
Generasi muda merupakan cerminan suatu bangsa, karena itulah pendidikan karakter amatlah penting. Bangsa Indonesia sesungguhnya telah memiliki karakternya, yaitu saling menghormati dan lain-lainnya. Hal inilah yang mulai hilang dari masyarakat. Mulailah perkuat karakter ini dari dirimu sendiri lalu kembangkan ke lingkungan sekitarmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar